11 Jul 2013

Sejarah Lampung

Pada abad ke VII orang di negeri Cina sudah membicarakan suatu wilayah didaerah Selatan (Namphang) dimana terdapat kerajaan yang disebut Tolang Pohwang, To berarti orang dan Lang Pohwang adalah Lampung. Terdapat bukti kuat bahwa Lampung merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Jambi dan menguasai sebagian wilayah Asia Tenggara termasuk Lampung dan berjaya hingga abad ke-11. Sriwijaya datang ke Lampung karena daerah ini dulunya merupakan sumber emas dan damar.
Peninggalan yang menunjukkan bahwa Lampung berada dibawah pengaruh Kerajaan
Sriwijaya antara lain dengan ditemukannya prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Batu Bedil didaerah Tenggamus merupakan peninggalan kerajaan seriwijaya (abad VIII). Kerajaan-kerajaan Tulang Bawang dan Skala Brak juga pernah berdiri pada sekitar abad VII-VIII. Pusat Kerajaan Tulang Bawang diperkirakan disekitar Menggala/Sungai Tulang Bawang sampai Pagar Dewa. Zaman Islam ditandai masuknya Banten diLampung pada abad ke 16, terutama saat bertahtanya Sultan Hasanuddin (1522-1570). Sejak masa lampau, Lampung memang dikenal karena tanaman ladanya yang banyak dicari orang. Kesultanan Banten yang tertarik dengan produksi lada Lampung mengusai daerah ini pada awal abad ke-16 dan sekaligius memperkenalkan agama Islam. Pada zaman ini Lampung melahirkan pahlawan yang terkenal gigih menantang Belanda. Bernama Radin Intan. Pengaruh Islam terlihat diantaranya dan adanya Tambra Prasasti (Buk Dalung) didaerah Bojong Kecamatan Jabung Sekarang, berisi perjanjian kerjasama antara Banten dan Lampung dalam melawan penjajahan Belanda.
Kontrol yang dilakukan Kesultanan Banten atas produksi lada Lampung telah menjadikan pelabuhan Banten sebagai pelabuhan lada yang paling besar dan paling makmur di Nusantara. Tanaman lada pula yang juga menarik kaum pendatang asing dari Eropa seperti perusahaan dagang dari Belanda Dutch East India Company. Perusahaan dagang ini pada akhir abad ke-17 membangun sebuah pabrik pengolahan di Menggala. Namun dengan berbagai upaya akhirnya Belanda berhasil menguasai Lampung pada tahun 1856.Pemerintah kolonial Belanda untuk pertama kalinya memperkenalkan program transmigrasi kepada penduduk di Pulau Jawa yang sangat padat untuk pindah dan berusaha di Lampung. Program transmigrasi ini ternyata cukup diterima baik dan banyak penduduk asal Pulau Jawa yang kemudian pindah ke lokasi transmigrasi yang berada di kawasan timur Lampung. Program transmigrasi ini kemudian ditingkatkan lagi pada masa kemerdekaan pada tahun 1960-an dan 1970- an. Orang asal Pulau Jawa ini membawa serta perangkat kebudayaan mereka ke Lampung seperti gamelan dan wayang. Orang dari Pulau Bali kemudian juga datang ke Lampung untuk mengikuti program transmigrasi ini. Kehadiran pendatang dari daerah lain di Lampung telah menjadikan wilayah ini sebagai daerah dengan kebudayaan yang beragam (multi-kultur). Keragaman suku yang ada justru menjadi daya tarik wisata apalagi di berbagai kabupaten yang ada tersebar potensi wisata alam, wisata budaya. Keberadaan sanggar-sanggar seni/budaya sebagai pelestari seni/budaya warisan nenek moyang banyak berkembang

A.     Zaman Pra Kemerdekaan Indonesia
Wilayah Kota Bandar Lampung pada zaman kolonial Hindia Belanda termasuk wilayah Onder AfdelingTelokbetong yang dibentuk berdasarkan Staatsbalat 1912 Nomor : 462 yang terdiri dari Ibukota Telokbetong sendiri dan daerah-daerah disekitarnya. Sebelum tahun 1912, Ibukota Telokbetong ini meliputi juga Tanjungkarang yang terletak sekitar 5 km di sebelah utara Kota Telokbetong (Encyclopedie Van Nedderland Indie, D.C.STIBBE bagian IV).
Ibukota Onder Afdeling Telokbetong adalah Tanjungkarang, sementara Kota Telokbetong sendiri berkedudukan sebagai Ibukota Keresidenan Lampung. Kedua kota tersebut tidak termasuk ke dalam Marga Verband, melainkan berdiri sendiri dan dikepalai oleh seorang Asisten Demang yang tunduk kepada Hoof Van Plaatsleyk Bestuur selaku Kepala Onder Afdeling Telokbetong.
Pada zaman pendudukan Jepang, kota Tanjungkarang-Telokbetong dijadikan Si (Kota) dibawah pimpinan seorang Sicho (bangsa Jepang) dan dibantu oleh seorang Fuku Sicho (bangsa Indonesia).
                                   

B.     Zaman Pasca Kemerdekaan Indonesia
Sejak zaman Kemerdekaan Republik Indonesia, Kota Tanjungkarang dan Kota Telokbetong menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Selatan hingga diterbitkannnya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yang memisahkan kedua kota tersebut dari Kabupaten Lampung Selatan dan mulai diperkenalkan dengan istilah penyebutan Kota Tanjungkarang-Telukbetung.
Pada perkembangannya selanjutnya, status Kota Tanjungkarang dan Kota Telukbetung terus berubah dan mengalami beberapa kali perluasan hingga pada tahun 1965 setelah Keresidenan Lampung dinaikkan statusnya menjadi Provinsi Lampung (berdasarkan Undang-Undang Nomor : 18 tahun 1965), Kota Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang-Telukbetung dan sekaligus menjadi ibukota Provinsi Lampung.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1983, Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung (Lembaran Negara tahun 1983 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3254). Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 tahun 1998 tentang perubahan tata naskah dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II se-Indonesia yang kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Walikota Bandar Lampung nomor 17 tahun 1999 terjadi perubahan penyebutan nama dari “Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung” menjadi “Pemerintah Kota Bandar Lampung” dan tetap dipergunakan hingga saat ini.

C.     Hari Jadi Kota Bandar Lampung
Hari jadi kota Bandar Lampung ditetapkan berdasarkan sumber sejarah yang berhasil dikumpulkan, -terdapat catatan bahwa berdasarkan laporan dari Residen Banten William Craft kepada Gubernur Jenderal Cornelis yang didasarkan pada keterangan Pangeran Aria Dipati Ningrat (Duta Kesultanan) yang disampaikan kepadanya tanggal 17 Juni 1682 antara lain berisikan: “Lampong Telokbetong di tepi laut adalah tempat kedudukan seorang Dipati Temenggung Nata Negara yang membawahi 3.000 orang” (Deghregistor yang dibuat dan dipelihara oleh pimpinan VOC halaman 777 dst.)-, dan hasil simposium Hari Jadi Kota Tanjungkarang-Telukbetung pada tanggal 18 November 1982 serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1983 tanggal 26 Februari 1983 ditetapkan bahwa hari Jadi Kota Bandar Lampung adalah tanggal 17 Juni 1682.

Sejarah KagangaKepulauan Sumatera pernah didatangi bangsa Yunan dari daratan Indo-Cina pada abad Sebelum Masehi. Bangsa ini sebelum datang secara besar-besaran, mereka masuk Nusantara dengan kelompok-kelompok kecil.
Mereka membawa berbagai kebudayaan antara lain falsafah/ajaran Buddha dan aksara/tulisan kaganga. Khusus di Lampung sekarang dikenal dengan tulisan Lampung karena pada zaman modern ini Lampunglah yang lebih dulu mengangkat aksara kaganga tersebut. Di Sumatera bagian selatan, khususnya di Sumatera Selatan, aksara kaganga dikenal dengan nama tulisan ulu dalam wilayah pedalaman Batanghari Sembilan di Jambi, dikenal dengan nama tulisan encong, di Aceh dengan tulisan rencong, di Sumatera Utara/Batak dengan tulisan pustaha/tapanuli.
Di wilayah kepulauan nusantara ini yang memakai tulisan kaganga hanya di Pulau Sumatera dan Sulawesi (ada 22 wilayah) dan di luar wilayah tersebut memakai tulisan/aksara pallawa/hanacaraka yang berasal dari India sesudah masuk abad Masehi bersama dengan ajaran/falsafah Hindu, yang kemudian hari berkembang di Pulau Nusa Kendeng/Pulau Jawa sekarang dan Bali. Di pusat Kerajaan Saka/Aji Sai, raja-rajanya adalah titisan penjelmaan Naga Sakti/Nabi Khaidir a.s., dalam rangka mengemban tugas Tuhan Yang Maha Esa dengan menurunkan hukum inti Ketuhanan (falsafah Jaya Sempurna) sepanjang zaman. Di Pagar Alam Lahat, tepatnya di antara perbatasan 3 provinsi; Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu lokasi tersebut sampai saat ini belum terungkap dan masih merupakan misteri bagi bangsa Indonesia. Untuk mengungkapnya perlu dipelajari tulisannya, yaitu kaganga atau pallawa (hanacaraka).

Asal Nama Sumatera
Dalam catatan sejarah yang ada hingga saat ini, Pulau Sumatera ini ditemukan Angkatan Laut Kerajaan Rau (Rao) di India yang bernama Sri Nuruddin Arya Passatan tahun 10 Saka/88 Masehi yang tercantum dalam Surat Peninggalan pada Bilah Bambu tahun 50 Saka/128 M yang ditandatangani Ariya Saka Sepadi, bukan Sri Nuruddin Angkatan Pertama yang datang dari Kerajaan Rao di India.
Karena tidak ada kabar beritanya angkatan pertama, dikirim angkatan kedua yang dipimpin langsung Putra Mahkota Kerajaan Rao di India Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Saka/179 Masehi. Dengan 7 armada (kapal), mereka berlabuh di daratan Sumatera tepatnya di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang sekarang di Palembang, Y.M. Sri Mapuli Atung Bungsu memerintahkan Arya Tabing, nakhoda kepal penjalang untuk mendirikan pondokan dan menera (menimbang) semua sungai yang berada di wilayah Pulau Seguntang tersebut. Demi mengikuti amanat Ayahanda Kerajaan Rao di India, berganti-ganti air sungai ditera (ditimbang) Arya Tabing atas titah Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu, sebelum Arya Tabing menimbang semua air sungai, beliau bertanya kepada YM, sungai mana yang harus ditera (ditimbang), dijawab YM, semua Tera (yang maksudnya semua air sungai yang ada ditimbang). Dari kata-kata beliau itulah asal nama Sumatera hingga saat ini yang tercatat dalam surat lempengan emas tahun 10 Saka/88 Masehi serta surat dari bilah bambu pada tahun 101 Saka/179 Masehi yang sampai saat ini belum ditemukan bangsa Indonesia, dan berkemungkinan sekali bertuliskan/aksara kaganga atau pallawa/hanacaraka di wilayah Sumetera bagian selatan. Setelah ditimbang angkatan Arya Tabing, didapatlah air sungai/Ayik Besemah dari dataran tinggi Bukitraja Mahendra Mahendra (Bukit Raje Bendare) mengalir ke barat dan bermuara di Sungai Lematang wilayah Kota Pagar Alam (Lahat).

Sejarah AdatAdat pepadun sai batin terbentuk pada abad ke-17 tahun 1648 M oleh empat kelompok/buay, yaitu Buay Unyai di Sungai Abung, Buay Unyi di Gunungsugih, Buay Uban di Sungai Batanghari dan Buay Ubin (Subing) di Sungai Terbanggi, Labuhan Maringgai. Adat pepadun sai batin ini masih ada pengaruh dari Hindu dan Buddha Putri Bulan tidak dikenal keempat peserta sidang (empat buay) yang merupakan utusan kelompok masing-masing wilayah. Sangaji Mailahi menjawab akan membentuk adat.
Keempat bersaudara dari 4 buay tersebut merasa sangat tertarik melihat Putri Bulan adik angkatnya Sangaji Malihi, sehingga rapat/sidang ditunda sejenak karena terjadi keributan di antara mereka. Untuk mengatasi keributan itu, Sangaji Malihi memutuskan Putri Bulan dijadikan adik angkat dari mereka berempat. Setelah meninggalkan daerah Goa Abung, mereka menyebarkan adat ke daerah pedalaman Lampung sekarang. Buay Unyai pada puluhan tahun kemudian hanya mengetahui sidang adat pepadun sai batin diadakan di daerah Buay Unyai dan sebagai Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa (Bahasa) adalah Sangaji Malihi yang kemudian hari dijuluki masyarakat sebagai Ratu Adil. Buay Bulan (Mega Pak Tulangbawang) pada permulaan abad ke-17 Putri Bulan bersuamikan Minak Sangaji dari Bugis yang julukannya diambil dari kakak angkatnya Sangaji Malihi (Ratu Adil).
Empu Riyo adalah keturunan Buay Bulan di Buay Aji Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan ada di belakang Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan di Buay Aji Tulangbawang Menggala (sekarang). Di antara keturunan Raja Jungut/Kenali Pesagi keturunan Buay Bulan ada di Kayu Agung, keturunan Abung Bunga Mayang dari Mokudum Mutor marga Abung Barat sekarang.
Jadi adat pepadun sai batin merupakan satu kesatuan (two in one) yang tidak terpisahkan satu sama lainnya karena arti/makna dari pada kata atau kalimat pepadun sai batin adalah pepadun = musyawarah/mufakat, dan sai batin = bersatu/bersama. Jadi kata pepadun sai batin adalah musyawarah mufakat untuk bersama bersatu.
Dan kemudian hari sejarah adat pepadun sai batin terbagi menjadi 2 kelompok/jurai, yaitu Lampung sai = pepadun dan aji sai = sai batin, yang kemudian kita kenal sebagai lambang Sang Bumi Ruwa Jurai (pepadun sai batin). Fakta/bukti autentik piagam logam tahun 1652 Saka/1115 H atau tahun 1703 M yang bertuliskan Arab gundul dan aksara pallawa/hanacaraka msh ada sampai sekarang. Jadi adat pepadun sai batin itu berarti musyawarah mufakat untuk bersatu/bersama dalam pembentukan Adat.
Pepadun = Musyawarah/mufakat
Sai batin = Bersatu/bersama
Lampung sai = Kita bersatu/mereka bersatu
Aji sai = Saya satu/ini satuSang Bumi Ruwa Jurai = pepadun saibatin (satu kalimat) musyawarah untuk bersatu


Sejarah berdirinya Provinsi Lampung yang dimulai dari zaman kerajaan ribuan tahun silam terus menarik untuk disimak. Masih terjadi perdebatan, saling klaim, dan kesimpangsiuran data siapakah kerajaan tertua di Provinsi Lampung. Saat ini, sejumlah aktivis sedang giat menggali data sejarah Lampung yang terserak dengan menerjemahkan sebuah buku langka untuk menguak sejarah. Bagaimana kisahnya?


Beberapa aktivis yang tengah meneliti sejarah kerajaan tertua yang menjadi cikal bakal Lampung itu antara lain Ariyanto Yusuf dan Slamet Budiono. Keduanya sudah dua tahun ini meneliti berbagai literatur sejarah Lampung.
    ’’Meski bukan budayawan, kami terpanggil untuk menguak sejarah Lampung sebenarnya seperti apa. Kami bukan memantik kontroversi. Tetapi fakta dan sejarah yang kita temukan, mari kita explore bersama. Salah satunya, ternyata juga ada data siapakah kerajaan tertua di Lampung itu,” kata Ariyanto kemarin.
    Aktivis Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSSbik) ini menerangkan, ekspedisi mencari data-data dan literatur sejarah sudah dilakukannya pada 20 Oktober 2011 ke Belanda, yang notabene adalah penjajah Republik Indonesia. Bersama Slamet yang juga aktivis prodemokrasi, keduanya menemukan hal-hal yang mengejutkan. Antara lain, banyak data seperti berkas, foto-foto, bahkan penggalan buku yang sudah hampir punah masih tersimpan rapi di museum dan perpustakaan di Negeri Kincir Angin tersebut.
    ’’Kami ke dua tempat, yaitu Tropen Museum di Linnaeusstraat 2 Amsterdam dan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), Leiden. Di Tropen lebih banyak foto-foto dan benda, sedangkan di KITLV adalah Perpustakaan Negeri Belanda. Di tempat ini ada sambutan Gubernur Lampung Zainal Abidin Pagar Alam berupa laporan gubernur kepala daerah Propinsi Lampung saat kunjungan Presiden RI tanggal 15-17 Djuli 1968. Padahal di Lampung, kita sulit menemukannya,” ujar Ariyanto seraya mengatakan, kala itu dia ke Belanda dalam rangka mempelajari sistem drainase dan pedestrian untuk Kota Bandarlampung.
    ’’Jadi ekspedisi tim kecil ini adalah secara independen,” tuturnya.
    Selain itu, imbuh Ariyanto, juga ditemukan buku yang hampir punah soal sejarah Lampung yang difoto dan disimpan di microchip serta bisa dilihat dengan proyektor.
    Dari sekian banyak literatur yang dikumpulkan Aryanto dan Slamet, ada sebuah buku langka berbahasa Jawa halus berjudul Lampoeng, Tanah Lan Tijangipoen yang ditulis oleh K.R.T.A.A. Probonegoro yang merupakan bupati Betawi (Jakarta). Buku ini dicetak oleh Bale Poestaka Batavia-C pada tahun 1940.
    ’’Sampai saat ini kami sedang berupaya menerjemahkan buku yang literaturnya berasal abad 18 serta sebelum Krakatau meletus tahun 1883. Kami targetkan secepatnya, karena isinya sangat menarik dan menambah wawasan sejarah. Di antaranya menguak sejarah kerajaan tertua di Lampung, di mana berbeda dengan literatur yang beredar selama ini. Pijakan dari buku ini kemudian kami cross check dengan fakta sejarah, termasuk lokasi dan kebendaannya di Lampung,” papar dia. (bersambung/p7/c1/gus)

Buku ’’Lampoeng’’ Hanya Sebut Sekala Brak
BANDARLAMPUNG – Sejarah berdirinya Provinsi Lampung yang dimulai dari zaman kerajaan ribuan tahun silam terus menarik untuk disimak. Masih terjadi perdebatan, saling klaim, dan kesimpangsiuran data siapakah kerajaan tertua di Provinsi Lampung. Saat ini, sejumlah aktivis sedang giat menggali data sejarah Lampung yang terserak dengan menerjemahkan sebuah buku langka untuk menguak sejarah. Bagaimana kisahnya?
Aryanto Yusuf dan Slamet Budiono tengah menerjemahkan buku langka tentang sejarah Provinsi Lampung berbahasa Jawa halus berjudul Lampoeng, Tanah Lan Tijangipoen yang ditulis oleh K.R.T.A.A. Probonegoro yang merupakan bupati Betawi (Jakarta). Dari beberapa penggalan buku yang dicetak oleh Bale Poestaka Batavia-C pada tahun 1940 itu, salah satunya menyebutkan bahwa kerajaan tertua di Lampung yakni di Belalau atau tafsirnya Kerajaan Sekala Brak.
    ’’Pada bab asal usul orang Lampung (tijangipun) dalam buku itu disebut bahwa asal usul orang Lampung berasal dari daerah Sekala Brak atau sebelah utara Danau Ranau,” kata Slamet didampingi Aryanto, Minggu (20/1).
    Dilanjutkan, dalam buku itu tepatnya menyatakan bahwa orang Lampung berasal dari Belalau. Sehingga, kata Selamet, hal inilah yang menarik minatnya dan Aryanto bahwa ternyata tidak disebutkan kerajaan lain selain di Belalau.
’’Setelah kami cross check ke lapangan, ternyata memang benar bahwa Sekala Brak dimulai pada zaman batu atau abad ke-3. Masih zaman animisme yang kemudian berlanjut hingga tahapan masuknya Islam di Sekala Brak hingga beberapa turunan raja di sana. Fakta sejarahnya juga ada, batu-batu besar di lokasi itu. Memang, ada juga batu-batu peninggalan seperti berbentuk anak memeluk ibu di Pulau Panggung, Tanggamus. Tetapi butuh uji karbon dahulu untuk menaksir umur batu apakah tua yang di Tanggamus atau Lampung Barat (Sekala Brak). Dan di Sekala Brak memang berbeda dengan yang ada di Pugung Raharjo,” papar dia.
Menilik fakta itu, kesimpulan sementara sebelum selesai diterjemahkan ada petunjuk kerajaan tertua di Lampung. ’’Dalam buku Lampoeng ini setidaknya ada petunjuk bahwa mulanya dari sana (Sekala Brak). Sebab secara geografis, Sekala Brak kerajaannnya berada di wilayah Belalau,” kata dia.
Dalam literatur buku Lampoeng, imbuh Aryanto, juga menyebutkan sumber tertua adalah karya W. Marsden dalam History of Sumatra, 3rd, Edition, Londen, 1811. Juga catatan di Kerajaan Mataram di antaranya dalam buku Prapantja dalam Negara Kertagama (Uitg, van de Commissie voor de Volksleetuur, 1922). Juga yang termuda melalui buku Kolonisatie Bulletin No.3: Uitg. V.d. Centrale Commisie voorEmigratie en Kolonisatie van Inheemschen. Nov.1938.
Yang menarik, kata Aryanto, dalam buku Lampoeng ini menyebutkan bahwa asal usul nama Lampung adalah nama seorang anak dari kerajaan tertua di Lampung.
’’Ada nama ’Lamphoeng’ yang merupakan satu dari lima bersaudara, namun asal-usulnya masih misterius dalam buku ini. Sebab, disebutkan pula, anak dari Lamphoeng bernama Menak Bagindo. Sedangkan Menak umumnya panggilan untuk Pepadun. Namun, siapa ayah dan ibu Lampoeng belum terungkap. Mudah-mudahan setelah kami terjemahkan, buku ini akan menjadi jelas. Target kami buku akan kita bagikan gratis untuk mengetahui pijakan sejarah dan asal-usul Provinsi Lampung,” pungkasnya. (gus/p5/c1/gus)

Dua Jurai Berbeda tapi Tetap Satu Keturunan!
BANDARLAMPUNG - Sejarah berdirinya Provinsi Lampung yang dimulai dari zaman kerajaan ribuan tahun silam terus menarik untuk disimak. Masih terjadi perdebatan, saling klaim, dan kesimpangsiuran data siapakah kerajaan tertua di Provinsi Lampung. Saat ini, sejumlah aktivis sedang giat menggali data sejarah Lampung yang terserak dengan menerjemahkan sebuah buku langka untuk menguak sejarah. Bagaimana kisahnya?
Dalam literatur buku Lampoeng, aktivis yang sedang meneliti sejarah Provinsi Lampung, Aryanto Yusuf dan Slamet Budiono, memaparkan, sumber tertua buku ini adalah karya W. Marsden dalam History of Sumatra, 3rd, Edition, Londen, 1811. Juga catatan di Kerajaan Mataram di antaranya dalam buku Prapantja dalam Negara Kertagama (Uitg, van de Commissie voor de Volksleetuur, 1922). Juga yang termuda melalui buku Kolonisatie Bulletin No.3: Uitg. V.d. Centrale Commisie voorEmigratie en Kolonisatie van Inheemschen. Nov.1938.
    Yang menarik, kata Aryanto, dalam buku Lampoeng ini menyebutkan bahwa asal usul nama Lampung diduga adalah nama seorang anak yang ditengarai dari kerajaan tertua di Lampung.
    ’’Ada nama ’Lamphoeng’ yang merupakan satu dari lima bersaudara, namun asal-usulnya masih misterius dalam buku ini. Sebab, disebutkan pula, anak dari Lamphoeng bernama Menak Bagindo. Sedangkan Menak umumnya panggilan untuk Pepadun. Namun, siapa ayah dan ibu Lampoeng belum terungkap. Mudah-mudahan setelah kami terjemahkan, buku ini jadi semakin jelas bercerita. Target kami buku akan dibagikan gratis untuk mengetahui pijakan sejarah dan asal-usul Provinsi Lampung,” papar dia.
    Aryanto mengatakan, dari pijakan sejarah yang ada tersebut, maka masyarakat Lampung yang dikenal dengan dua jurai yaitu Pepadun dan Sai Batin itu sebenarnya satu keturunan. Dalam hal ini, hanya adat istiadat keseharian dan aspek geografis yang membuat dua jurai itu berbeda. Benang merahnya tetap satu keturunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar